Ras-Le-Bol

Sudah, mungkin kau tidak perlu melawan.

Akan ada saatnya tanganmu meraih, dan pada akhirnya hanya udara yang berhasil kau genggam. Coba buka genggamanmu. Buka, tadahkan kedua telapak tanganmu. Bisikkan doa-doa indah di sela-sela jemarimu.

Akan ada saatnya, tak peduli sekuat apapun kau mencoba berdiri, ada gelombang tak kasat mata yang akan merobohkan tumpuanmu. Pada akhirnya, perlawanan tidak ada gunanya. Dan kau harus rela jatuh, bersimpuh—hingga bersujud, ditahan kedua lututmu yang mulai lemah itu.

Percayakah kau bahwa doa yang kau rapal dalam genggaman tangan dan sujudmu itu memiliki kekuatan yang tak pernah kau duga?

Tidak usah terkejut.

Akan ada saatnya wajah-wajah yang selama ini akrab mengelilingimu, perlahan berubah jadi punggung-punggung asing yang lupa caranya menoleh saat kau meneriakkan nama-nama mereka di antara kekacauan yang mengobrak-abrik hidupmu yang selama ini tertata rapi.

Diam. Berhenti berteriak. Mengemislah pada Tuhan.

Ya…kalau kau percaya bahwa Dia ada.

Aku?

Tidak usah kau tanya. Jelas aku percaya pada Tuhan.

Kalau tidak, pada siapa lagi aku harus percaya dan memohon?

Pada mereka yang nyata dan kasat mata, namun buta, tuli, dan mati rasa?

Ah, jangan bercanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s