Lagrima

Boleh malam ini aku sedikit melankolis? Mungkin karena efek cuaca hari ini. Ditambah alunan Lagrima, karya Tarrega. Ah, Tarrega. Bagaimana bisa kau mengobrak-abrik perasaan hanya dengan 16 bar saja?

Komposisi sederhana yang entah kapan terakhir kali mampir di telinga, tapi setiap detail nadanya masih betah menempel di kepala—sejak Presiden RI keenam masih menjabat, sepertinya.

Lagrima, bagiku adalah interpretasi cinta dalam alunan nada. Sederhana. Manis. Romantis. Tragis. Tricky.

Entah apa isi kepala Francisco Tarrega saat ia menciptakan Lagrima. Bagaimana ia membukanya dengan alunan nada-nada romantis.

Dalam iringan Lagrima, imajinasiku melayang pada sepasang kekasih di awal tahun 1900-an atau akhir 1800-an, bergandengan mesra menyusuri jalanan kota yang masih asri.
Jembatan batu yang melengkung di atas danau, dengan angsa-angsa cantik menari-nari di atas air yang gemerlap cahaya keemasan matahari pada suatu sore di awal Desember.

Pohon-pohon rindang, rumput hijau dan bunga-bunga liar dengan warna cantik yang bermekaran di sepanjang jalur pedestrian. Tidak ada klakson yang menjerit, tidak ada pula asap kendaraan yang mencekik.

Hanya pemandangan sebuah kota yang asri, tempat perempuan dan laki-laki yang tertancap panah asmara saling bicara cinta. Mungkin tidak banyak kata—hanya mata dan bibir yang bicara tanpa aksara. Toh hati lebih tahu bagaimana menerjemahkan cinta dan bahagia walau tanpa kata.

Romantis. Manis. Seperti bait awal yang mengawali Lagrima.

Namanya juga cinta. Sebentar manis, romantis, bahagia. Sebentar kemudian ada yang menangis. Ada yang tersakit.

Bait selanjutnya, kau bisa mendengar nada-nada Tarrega yang tiba-tiba terdengar agak sedikit suram.

Ada apa dengan notmu, Tarrega? Apakah kau baru saja ditinggal sang kekasih? Apakah kau baru saja kehilangan si jantung hati? Atau mungkin kau terlalu lama asyik sendiri, lalu tiba-tiba galau dan ingin memberikan cinta pada manusia?

Ada apa di balik nada-nadamu yang melankolis? Apakah kau menciptakan bait ini saat air matamu menitik? Seperti arti harfiah pada judul yang kau berikan. Lagrima—teardrop. Air mata.

Beberapa nada kemudian, kau berhasil kembali ke bait awal yang manis dan membuatku seolah ingin sedikit berdansa romantis. Sudahkah kau temukan kembali penawar kegalauanmu itu?

Cukup tentang Tarrega. Toh berapa kali aku membiarkan Lagrima mencumbui telingaku, aku masih tetap tak bisa menebak isi hatinya. Boleh aku bicara tentang kita?

Aku, padamu, akan seperti Lagrima. Akan ada saatnya kita bicara hal manis. Aku bisa melihat binar bahagia di matamu. Kau bisa melihat senyum-senyum merekah di bibirku.

Tapi cinta tidak selamanya tentang yang indah-indah saja, sayang. Mungkin akan ada satu masa di mana kau dan aku ada di titik nadir. Jangankan bilang cinta, saling memandang pun jengah. Kemudian, kita menangis.

Kalau masa itu tiba, jangan biarkan terlalu lama berlarut, sayang. Dalam beberapa nada, kita akan kembali ceria. Tangan kembali menggenggam, tubuh kembali merapat. Kita kembali bicara cinta dan hal-hal bahagia.

Ah, tunggu dulu. Jika Lagrima berarti air mata, cukup aku mencintaimu seperti komposisinya saja. Sederhana. Romantis. Mengena.

Ada trik khusus yang dibutuhkan, ada sedikit tantangan sulit yang perlu ditaklukkan. Tapi, justru itu yang membuat nada-nada sederhana ini semakin merdu dan syahdu. Not-not tricky itu yang membuat Lagrima terdengar romantis dan menarik.

Seperti not-not tricky dalam bait Lagrima. Kita akan menemui kerikil dan angin kencang di sepanjang jalan. Tapi bukankah itu yang membuat cerita cinta kita lebih seru, romantis, dan menarik?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s